logo farmanina 2024

Sebenarnya, Seberapa Sering Kita Harus Keramas? Ini Jawaban Berdasarkan Jenis Kulit Kepala

Ada dua kubu yang selalu bersilangan pendapat soal ini. Kubu pertama merasa keramas setiap hari itu wajib, kalau skip sehari rasanya kepala sudah tidak nyaman.

Kubu kedua justru sebaliknya, sudah baca-baca artikel bahwa keramas terlalu sering bikin rambut rontok, jadi malah menahan diri sampai tiga-empat hari.

Dua-duanya yakin caranya benar, tapi keduanya juga bisa salah.

Tidak ada satu angka ajaib yang berlaku untuk semua orang. Frekuensi keramas yang tepat sangat bergantung pada jenis kulit kepala, tingkat aktivitas, cuaca, dan kebiasaan harian masing-masing orang.

Tapi, yang lebih penting untuk dipahami oleh Anda, keramas dengan frekuensi yang salah bukan sekadar bikin rambut kurang nyaman, tapi bisa memicu masalah nyata, termasuk kerontokan yang meningkat.

Apakah Keramas Setiap Hari Berbahaya?

Tergantung (perlu sedikit penjelasan soal bagaimana kulit kepala bekerja).

Kulit kepala secara alami memproduksi minyak yang disebut sebum, minyak ini bukan musuh. Ia berfungsi sebagai lapisan pelindung alami yang menjaga kelembapan kulit kepala dan batang rambut.

Saat kamu keramas, sampo memang membersihkan kotoran dan sel kulit mati, tapi sekaligus juga mengangkat sebum.

Masalah muncul ketika ini terjadi terlalu sering. Kondisi yang dikenal sebagai over-washing ini membuat kulit kepala kehilangan lapisan pelindung alaminya secara terus-menerus.

Responsnya? Dua kemungkinan, pertama kulit kepala yang cenderung kering akan semakin kering, makin mudah iritasi, dan bisa menyebabkan kegatalan pada kepala.

Sementara kulit kepala yang cenderung berminyak justru akan memproduksi lebih banyak sebum sebagai kompensasi, sehingga rambut malah terasa lebih cepat lepek meski baru saja keramas.

Jadi keramas setiap hari tidak otomatis berbahaya, tapi untuk sebagian besar orang, memang tidak perlu.

Panduan Frekuensi Keramas Berdasarkan Jenis Kulit Kepala

Kulit Kepala Berminyak

Kalau rambut kamu terasa lepek dan berat hanya dalam 12 hingga 24 jam setelah keramas, kemungkinan besar kamu punya kulit kepala berminyak dengan produksi sebum yang tinggi. Untuk tipe ini, keramas setiap hari atau setiap dua hari sekali biasanya masih wajar dan bahkan dianjurkan.

Yang perlu diperhatikan bukan frekuensinya, tapi samponya.

Gunakan sampo yang diformulasikan untuk kulit kepala berminyak, hindari yang terlalu moisturizing di area akar, dan pastikan bilas sampai benar-benar bersih, karena residu sampo juga bisa memperparah tampilan berminyak.

Kulit Kepala Kering

Untuk kulit kepala kering, keramas setiap hari hampir pasti kontraproduktif. Produksi sebum-nya sudah terbatas, dan setiap kali keramas dengan sampo, lapisan pelindung yang sedikit itu ikut terkikis.

Akibatnya kulit kepala makin kering, gatal, dan mudah mengelupas.

Frekuensi yang lebih aman untuk tipe ini adalah dua hingga tiga kali seminggu. Tujuannya memberi kulit kepala cukup waktu untuk memulihkan lapisan minyak alaminya antara satu keramas dan keramas berikutnya. Kalau kamu memiliki rambut kering atau rambut yang mengalami kerusakan, artikel perawatan rambut kering kami bisa menjadi panduan lanjutan yang tepat.

Kulit Kepala Normal

Ini tipe yang paling “fleksibel.” Produksi sebum-nya seimbang, tidak terlalu berminyak dan tidak terlalu kering. Frekuensi keramas dua sampai tiga kali seminggu umumnya sudah cukup, tapi kalau aktivitas fisikmu tinggi atau cuaca sedang sangat panas dan lembap, tambah frekuensi sesuai kebutuhan tidak jadi masalah.

Tapi, kamu juga perlu perhatikan kapan rambutmu mulai terasa tidak nyaman. Itu biasanya sinyal yang lebih akurat dari angka hari manapun.

Rambut Berketombe

Ketombe memiliki dinamikanya sendiri terkait frekuensi keramas, dan penanganannya bergantung pada penyebab ketombe itu sendiri, apakah dari kulit kepala berminyak, kering, atau kondisi seperti dermatitis seboroik.

Makanya frekuensi keramas untuk rambut berketombe tidak bisa digeneralisasi tanpa tahu dulu akar penyebabnya.

Faktor Lain yang Menentukan: Aktivitas, Cuaca, dan Gaya Hidup

Jenis kulit kepala adalah titik awal, bukan satu-satunya penentu.

Aktivitas fisik dan keringat adalah faktor paling signifikan.

Kalau kamu berolahraga intens setiap hari atau pekerjaan membuatmu banyak berkeringat, keramas setelah aktivitas adalah hal yang wajar, bahkan untuk kulit kepala kering sekalipun. Keringat yang dibiarkan terlalu lama di kulit kepala bisa memicu iritasi dan menjadi media pertumbuhan bakteri.

Penggunaan helm atau hijab dalam jangka panjang juga memengaruhi sirkulasi udara di kulit kepala.

Kelembapan yang terperangkap di area ini bisa mempercepat penumpukan kotoran dan minyak, sehingga kebutuhan keramas bisa lebih sering dibanding yang tidak menggunakannya. Ini topik yang cukup luas dan kami akan bahas lebih dalam di artikel tersendiri.

Iklim Indonesia yang lembap sepanjang tahun juga tidak bisa diabaikan.

Suhu tinggi ditambah kelembapan udara membuat keringat lebih mudah menumpuk di kulit kepala, yang berarti kebutuhan keramas warga tropis secara umum memang lebih sering dibanding rekomendasi dari riset yang dilakukan di negara empat musim.

Tanda Frekuensi Keramas Kamu Sudah Salah

Tubuh sebenarnya cukup jujur dalam memberi sinyal. Beberapa tanda yang perlu kamu perhatikan:

  • Kulit kepala gatal dan mengelupas meski rajin keramas, kemungkinan besar tanda over-washing yang membuat kulit kepala terlalu kering
  • Rambut cepat lepek hanya dalam hitungan jam setelah keramas, ini bisa jadi tanda kulit kepala yang “protes” dengan memproduksi lebih banyak sebum sebagai reaksi atas keramas yang terlalu sering
  • Rambut terasa kasar dan kusam meski tidak ada perubahan produk, ini bisa indikasi lapisan pelindung alami rambut yang terkikis berulang kali
  • Kerontokan yang meningkat setelah atau saat keramas, meski ini perlu dibedakan. Wajar kehilangan 50 hingga 100 helai rambut per hari, termasuk saat keramas. Tapi kalau jumlahnya terasa jauh lebih dari itu secara konsisten, ini bukan sekadar soal frekuensi keramas

Poin terakhir ini yang penting banget, banyak orang langsung menyalahkan kebiasaan keramasnya saat rontok memburuk.

Padahal kalau frekuensi sudah dibetulkan dan rontok tetap berlanjut, masalahnya hampir pasti bukan di situ. Bisa jadi kondisi folikel, hormonal, atau hal lain yang perlu diperiksa lebih jauh.

Membenahi frekuensi keramas adalah langkah yang tepat untuk menjaga kesehatan kulit kepala. Kulit kepala yang sehat adalah fondasi bagi rambut yang sehat, dan sering kali perbaikan kecil di kebiasaan ini sudah memberi perubahan yang cukup terasa.

Tapi ada satu hal yang perlu dipahami dengan jelas oleh kamu, frekuensi keramas yang tepat bisa merawat dan melindungi folikel yang masih aktif, tapi tidak bisa memulihkan folikel yang sudah rusak atau mati.

Kalau kerontokan terus berlanjut meski kebiasaan keramas sudah diperbaiki, itu sinyal yang perlu ditindaklanjuti lebih serius.

Tim dokter di Farmanina Hair & Aesthetic Clinic dapat membantu pemeriksaan kondisi kulit kepala dan folikel secara langsung, untuk mengetahui apakah kerontokan yang kamu alami masih bisa ditangani atau sudah membutuhkan intervensi lebih lanjut.

FAQ

Apakah keramas setiap hari menyebabkan kebotakan? Keramas setiap hari sendiri tidak langsung menyebabkan kebotakan. Namun over-washing yang berulang bisa membuat kulit kepala kering dan iritasi kronis, yang jika dibiarkan dapat memengaruhi kesehatan folikel dalam jangka panjang. Kebotakan biasanya dipicu oleh faktor genetik, hormonal, atau kondisi medis tertentu, bukan semata frekuensi keramas.

Berapa kali keramas yang ideal dalam seminggu? Tidak ada angka universal. Untuk kulit kepala berminyak, bisa setiap hari atau setiap dua hari. Untuk kulit kepala kering atau normal, dua hingga tiga kali seminggu umumnya sudah cukup. Faktor seperti aktivitas fisik, cuaca, dan penggunaan pelindung kepala juga perlu diperhitungkan.

Bolehkah keramas saat rambut sedang rontok? Boleh. Kerontokan saat keramas bukan tanda bahwa sampo atau air merusak rambut. Rambut yang rontok saat keramas biasanya memang sudah berada di fase akhir siklus pertumbuhannya. Yang perlu diwaspadai adalah jika jumlah rontok terasa jauh berlebihan secara konsisten, karena itu bisa jadi tanda kondisi lain yang perlu dievaluasi.

Apakah keramas malam hari berbahaya untuk rambut? Tidak berbahaya secara langsung, asalkan rambut dikeringkan dengan baik sebelum tidur. Rambut yang dibiarkan lembap saat tidur dalam waktu lama bisa melemahkan batang rambut dan meningkatkan risiko patah. Jika kamu terbiasa keramas malam, pastikan rambut sudah cukup kering sebelum berbaring.

Referensi:

  • Gavazzoni Dias MF. Hair cosmetics: an overview. Int J Trichology. 2015. (membahas sebum, washing frequency, dan dampaknya pada kulit kepala)
  • Sumber tambahan dari American Academy of Dermatology (AAD) terkait hair washing frequency